Menjadi Pendidik Yang Positif

  • Bagikan
Pendidik
Pendidik

Hafal Al-Quran juga hadits saja tidaklah cukup untuk menjadi pendidik atau orang tua yang baik. Hal ini disadari betul oleh pengasuh, KH. Dr. Didik Hariyanto, Lc. M.P.I., sehingga beliau merasa perlu secara rutin melakukan kajian parenting bagi seluruh sivitas Islamic Center Wadi Mubarak.

Berikut adalah beberapa catatan penting dalam kajian beliau.

Parenting Butuh Ilmu

Parenting bisa jadi sebuah kemampuan yang tidak secara khusus ada jenjang pendidikannya. Tidak seperti menyiapkan seorang dokter, misalnya. Meski begitu, parenting adalah peran yang akan dijalani setiap manusia yang sudah berkeluarga. Tentu saja ini butuh ilmu.

Setiap asatidz, juga santri sangat perlu untuk menyiapkan diri sebagai orang tua yang baik. Persiapan ini salah satunya dengan ilmu. Tanpa ilmu ini, bisa jadi seorang sukses dan terkenal, tidak suskses menjadi orang tuanya ketika anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang bermasalah. Singkatnya, perlu ilmu untuk melahirkan generasi unggul, baik di rumah maupun di sekolah.

Memiliki generasi unggul berarti kita punya jariyah. Punya anak yang sholeh yang mendoakan kita. Punya murid yang sukses yang mendoakan kita.

3 Tipe Parenting

Jika dikelompokkan, ada 3 jenis pengasuhan atau pendidikan anak atau peserta didik:

Pertama, Tipe pemadam kebakaran.

Ada yang menghitung dan berpendapat mungkin ada sekira 70% pendidik seperti ini.

Pendidik ini bersikap reaktif ketika mendapati anak atau peserta didiknya bermasalah. Mereka tidak antisipastif. Mereka sejak awal tidak berorientasi dan kurang memperhatikan bagaimana cara membangun pribadi yang tidak bermasalah.

Kedua, Tipe pawang/penjinak.
Seakan-akan anak itu sama dengan hewan buas. Butuh dijinakkan.

Banyak orang tua berharap memiliki anak yang penurut. Banyak sumber bahkan menjelaskan bagaimana cara membentuk anak penurut.

Dalam Islam, harapan ini tidak sepenuhnya tepat bahkan bisa berdampak pada pembunuhan karakter dan jiwa anak. Fitrah anak khususnya usia dini tidaklah demikian.

Orang tua yang mendidik anak-anaknya dengan menuntut anaknya menjadi penurut bahkan sejak usia dini masuk tipe orang tua pawang.

Dalam beberapa kasus, model pendidikan ini malah berdampak terbalik. Alih-alih mencetak pribadi yang baik dan hormat, malah melahirkan jiwa yang memberontak ketika ada kesempatan. Ia kelak akan mengharap orang lain bersikap penurut padanya dengan cara apapun. Berjiwa preman.

Ketiga, Pendidik yang positif.

Pendidik yang positif sangat tergantung pada kemampuannya membangun hubungan yang positif. Baik dengan pasangan, maupun dengan anak. Dalam konteks lingkungan sekolah, hubungan ini berlaku antarsivitas akademika.

Membangun hubungan positif sangat tergantung pada pandangan yang positif. Pandangan positif inilah yang mempengaruhi bagaimana orang tua atau pendidik melihat obyek didik. Anak dan peserta didik.

Salah satu cara membangun hubungan yang positif adalah dengan membangun budaya saling menasihati. Budaya ini penting dibangun dalam pola parenting kita. Terhadap pasangan, juga anak.

Salah satu indikator parenting positif juga ketika kita tidak bersikap gila hormat. Misal, seorang suami dari istrinya. Orangtua dari anaknya.

Dalam konteks pendidikan di sekolah, sikap tidak positif adalah ketika seorang dosen atau musyrif merasa berhak mendapat penghormatan yang berlebihan.

Padahal, ketimbang mengharapkan hormat, seorang guru harus kebih mengingat untuk harus selalu mencurahkan perhàtian dan kasih sayang terhadap peserta didiknya. Demikian juga dalam konteks berkeluarga.

Ciri pendidikan positif berikutnya adalah ketika seorang pendidik atau orang tua lebih fokus pada penguatan pribadi dan karakter.

Dibanding mendidik anak penurut tapi rapuh jiwanya, pendidik positif akan membangun kepercayaan terhadap anak atau peserta didiknya sehingga terbangun jiwa yang kuat.

Pendidik positif akan melatih anak atau peserta didiknya untuk bertanggungjawab terhadap sesuatu. Hal ini mungkin dilakukan karena membangun kepercayaan menjadi salah satu faktor dalam membangun hubungan positif. Dengan pengalaman menanggung beban atau tanggung jawab, seorang anak atau peaerta didik bisa memiliki karakter dan jiwa dan kuat.

4 Pondasi Parenting Positif

Selain penjelasan 3 tipe pendidik di atas, pengasuh juga menjelaskan tentang 4 pondasi penting yang harus tegak dibangun untuk menjalankan kepengasuhan atau pendidikan yang positif.

Pertama, membangun koneksi atau hubungan yang positif.

Kedua, membangun kepercayaan.

Ketiga, pengembangan karakter positif.

Empat, perbaikan karakter negatif atau buruk.

Dari 4 pondasi ini, hal yang paling besar adalah kemampuan membangun hubungan yang positif.

Bayangkan, ketika hubungan yang positif ini tidak terbangun. Anak atau peserta didik curiga pada guru atau orang tuanya. Orang tua dan guru tidak percaya pada anak dan peserta didiknya. Situasi ini tentu hanya akan melahirkan lingkungan pendidikan yang buruk, baik di sekolah maupun di rumah.

Setidaknya terdapat 8 cara yang bisa diupayakan untuk mengembangkan hubungan positif ini. Insyaallah akan dibahas oleh pengasuh di sesi kajian parenting berikutnya. (ARH)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Translate »